Sejarah Singkat Mie Aceh, Kuliner Hasil Perpaduan Banyak Budaya

Sejarah Singkat Mie Aceh, Kuliner Hasil Perpaduan Banyak Budaya
Foto: Wiki

Kotapraja.com – Mie Aceh merupakan salah satu sajian khas yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam. Keunikan dari masakan ini adalah mie yang disiram dengan kuah kari kental yang beraroma rempah-rempah, dan dilengkapi dengan berbagai lauk di dalamnya.

Berbeda dengan mie pada umumnya yang biasanya memakai daging sapi, ayam, atau berbagai jenis makanan laut, mie Aceh menggabungkan semua pilihan lauk tersebut. Kuliner yang menjadi identitas Aceh ini menggunakan campuran daging sapi, ayam, kambing, serta berbagai jenis seafood seperti cumi dan kepiting.

Tidak perlu ragu mengenai cita rasanya, kombinasi rempah-rempah khas Aceh seperti cabai, lada, jinten, kapulaga, dan kunyit menjadi bumbu utama pembuatan kuah kari kuliner ini. Dengan demikian, masakan ini memiliki rasa yang komprehensif.

Mie Aceh berbeda dari mie pada umumnya. Bahan baku mie yang diproses memiliki tekstur kenyal, pipih, serta tebal dengan warna yang cenderung kuning cerah, sehingga menambah daya tarik pada hidangan tersebut. Selain itu, hidangan ini bisa disajikan dalam tiga variasi, yakni mie goreng (kering), mie kuah, dan mie goreng basah. Sebagai pelengkap, satu porsi mie Aceh akan dihiasi dengan taburan bawang goreng, kerupuk emping, mentimun, serta jeruk nipis.

Sekilas tentang Sejarah Mie Aceh

Keberadaan kuliner khas Serambi Mekah ini tidak lepas dari pengaruh budaya asing. Pada masa itu, pelabuhan Kerajaan Aceh merupakan salah satu pelabuhan tersibuk yang banyak dikunjungi oleh para pedagang dari luar negeri.

Para pedagang ini kemudian berinteraksi dengan penduduk lokal, yang selain menyebarkan ajaran Islam, juga memperkenalkan cita rasa baru dalam masakan. Dalam buku berjudul ‘Kuliner Bergizi Berbasis Budaya’ oleh Sunarto Kadir (2022), kaldu kental dalam mie Aceh merupakan dampak dari masakan India.

Sedangkan mie itu sendiri berasal dari kuliner Tiongkok. Penyajian Mie Aceh yang menggunakan daging kambing dan sapi, tak terlepas dari pengaruh nilai-nilai Islam di tanah Aceh. Penambahan berbagai jenis makanan laut dalam Mie Aceh dipengaruhi oleh kondisi geografis Aceh yang dikelilingi lautan.

Perpaduan budaya ini akhirnya menjadikan Mie Aceh sebagai kuliner khas ibu kota Banda Aceh. Rumah makan Mie Razali dikenal sebagai pelopor mie Aceh yang legendaris hingga saat ini.

Menurut buku ‘Sejarah Makanan dan Bumbu Khas Aceh yang Melegenda’ karya Analisa Tempo (2019), Mie Razali telah berjualan sejak tahun 1967. Walaupun tidak memakai nama ‘mie Aceh’, hidangan mie racikan Razali diterima masyarakat luas sebagai pelopor kuliner mie Aceh yang masih bertahan hingga sekarang.

Perpaduan kuliner mie Tiongkok dengan bumbu rempah khas Aceh menjadikannya menu favorit di tempat ini. Mie yang digunakan sebagai bahan utama adalah mie hokkian atau mie lidi yang memiliki bentuk silinder kecil, mirip spaghetti. Mie Razali disajikan dengan berbagai lauk seperti daging, udang, cumi, ayam, atau kepiting, dengan mie kepiting menjadi menu yang paling digemari para pelanggan.

Kuah khas mie Aceh berwarna merah mengilap dengan sedikit kecokelatan menggenang. Ketenarannya sebagai pelopor mie Aceh membuat tempat ini ramai dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai daerah. Kuliner mie Aceh semakin meluas seiring dengan perkembangan jalur perdagangan global pada masa itu, di mana para pedagang membawa mie Aceh hingga ke Pulau Jawa dan semenanjung Malaysia.

Kini, Mie Aceh dapat ditemukan di mana saja, khususnya di rumah makan Melayu atau Aceh.(*)